MUNDUR SATU MAJU SERIBU
Oleh: Dindin Syahyudin (Guru &
Penulis Independen)
Pertama-tama saya harus ucapkan
terima kasih dan doa terbaik atas segala pengabdian terbaik yang telah
diberikan oleh Mr. H. Meinuzar kepada dunia pendidikan Kab. Garut khususnya,
tentu ini merupakan satu kebanggaan bagi kita memiliki pengawas militan seperti
beliau dan tentunya harus kita teladani serta dilanjutkan semangat
pengabdiannya terutama oleh rekan-rekan guru yang akan segera hijrah menjadi
pengawas menyusul jejak langkah beliau. Puluhan tahun beliau berkhidmat
terhadap dunia pendidikan yang dicintainya dan waktu untuk beliau beristirahat
dan menyerahkan bendera perjuangan kepada generasi penerusnya telah tiba. Ini hal
yang lumrah dan fitrah kehidupan. Ada yang pergi dan diganti oleh mereka yang
akan melanjutkan dengan satu harapan bahwa yang datang kemudian harus lebih
baik dari mereka yang pergi, baik dari sisi semangat pengabdian, kapasitas ilmu
dan integritas diri dalam memperjuangkan nilai luhur pendidikan dan hak para
pendidik sebagai insan pendidikan.
Banyak PR besar yang harus sama sama
kita kerjakan terkait dinamika pendidikan di NKRI ini mulai dari isu kualitas
pendidikan kita yang masih berada dibawah negara-negara tetangga di sekitar
Asia Tenggara. Berdasarkan hasil PISA tahun 2018 silam Indonesia hanya duduk
diperingkat ke 5 setelah singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan Thailand(1)
bahkan kita hanya menduduki peringkat ke 67 dari 203 negara di dunia
berdasarkan laporan situs worldtop20.org sebuah merupakan situs yang kerap
membagikan peringkat pendidikan dari berbagai negara. Yang lebih menyedihkan
lagi adalah Tingkat minat baca masyarakat di Indonesia diketahui terbilang
cukup rendah. Berdasarkan data United Nations Educational, Scientific and
Cultural Organizatoin (UNESCO) di tahun 2016 Indonesia berada di peringkat 60
dari 61 negara di dunia. Selain itu,
berdasarkan data UNESCO minat membaca masyarakat Indonesia sangat rendah.
Dimana hanya 0,001 persen atau 1 dari 1.000 orang di Indonesia yang rajin
membaca (2). Yang lebih menyedihkan lagi adalah Data World Population
Review 2022 menunjukkan bahwa nilai rata-rata IQ (IQ atau Intelligence Quotient
adalah taraf kecerdasan yang digunakan untuk mengukur kemampuan seseorang dalam
penalaran hingga menyelesaikan masalah) orang Indonesia hanya sekitar 78,49. Nilai
tersebut membuat Indonesia berada di posisi 130 dari 199 negara yang diuji. Hal
ini menunjukkan IQ orang Indonesia tergolong rendah di dunia, padahal rata-rata
IQ Menurut The Wechsler Adult Intelligence Scale dan Stanford-Binet, skor IQ
rata-rata berada di antara 90-109. Di atas angka tersebut dianggap skor IQ
tinggi, dan di bawah angka tersebut dianggap rendah. Sedangkan untuk skor di
bawah 70 berarti ada kendala perkembangan atau ketidakmampuan belajar(3).
Permasalahan lainnya adalah miskonsepsi
tentang bonus demografi yang katanya akan kita raih pada tahun 2045 nanti. Kita
semua bangga dengan perkiraan usia produktif warga NKRI yang tinggi dikisaran
70% dari total jumlah penduduk Indonesia. Kita terbuai seolah-olah bonus
demografi itu akan membawa kemajuan intelektual dan peradaban bangsa ini. Kata Bonus
itu sendiri bisa jadi kurang tepat karena tidak bisa mengukur seberapa kuat kita
menyiapkan generasi ditahun 2045 tersebut. Kata deviden sepertinya lebih cocok digunakan
dalam konteks populasi suatu negara, istilah 'dividen demografis' menggambarkan
efek positif yang dapat ditimbulkan oleh pertumbuhan populasi terhadap
perekonomian secara keseluruhan(4). Dividen dalam terminologi
ekonomi adalah bagian dari laba atau pendapatan suatu perusahaan yang
besarannya telah ditetapkan oleh direksi dan juga disahkan dalam rapat para
pemegang saham yang nantinya akan dibagikan kepada seluruh pemegang saham. Untuk
memperoleh deviden yang tinggi tentu diperlukan perencanaan dan modal yang
memadai disamping faktor SDM yang juga harus berkualitas. Jika kita berkaca
pada data-data pendidikan yang telah saya paparkan dibagian atas tulisan ini
tentu kita harus waspada dan harus lebih
bekerja keras agar tahun 2045 itu kita benar-benar akan memperoleh Deviden atau
bonus demografi dan bukannya malah memperoleh beban demografi karena anak-anak
kita saat ini banyak yang mengalami stunting, tingkat pendidikan rendah, IQ
dibawah rata-rata dan tingkat literasi yang buruk tentu saja bisa menghambat
impian kita untuk memanen Deviden Denografi tersebut.
Maka kembali kepada kita sebagai
ujung tombak pendidikan apakah kita akan segera bangkit dan bergerak untuk
memulai perbaikan atau kita biarkan segala kekurangan dan ketidakakuratan
kebijakan untuk tidak kita kritisi. Apakah kita sudah cukup nyaman dengan
kondisi kita saat ini atau kita akan menyibukkan diri menyiapkan generasi kuat
dan tangguh untuk masa depan Bangsa ini. Selamat jalan Pengawas tangguh, semoga
pengganti mu jauh lebih tangguh dan berwibawa untuk membawa kami para guru
mengabdi dengan sepenuh hati kepada negeri. Cag.
Referensi:
(4)https://www.google.com/search?q=dividen+demografi+adalah&bih=625&biw=1366&hl=id&ei=j42KZJ2PDNLp4-
Komentar
Posting Komentar