PADUAN SUARA (SENI & KEIMANAN)
Oleh:
Dindin Syahyudin (Guru & Penulis Independen)
Di Sekolah kita pun ada paduan
suara yang menjadi kebanggaan bersama, kemarin saya mendengar dan menyaksikan
mereka berlatih beberapa lagu dan hasilnya cukup memuaskan. Saya melihat
kesungguhan rekan-rekan anggota padus dalam memproduksi nada sesuai arahan coach
nya. Bahkan di salah satu lagu yang mereka nyanyikan mampu menguras emosi
melalui sekaan air mata. Luapan emosi itu tentu tidak artificial atau fake
melainkan muncul karena ada penghayatan terhadap lagu yang dinyayikan. Berlinang
air mata dan berpelukan saling menguatkan adalah hasil dari penjiwaan terhadap
lagu yang dibawakan yang ujungnya adalah menyentuh juga relung hati pemirsa
yang menyaksikannya termasuk saya yang berada di locus dan tempus terjadinya
momen mengharukan itu. Mereka bernyanyi sebaik mungkin bukan hanya untuk
memuaskan coach dan diri mereka sendiri melainkan juga untuk memberikan
pelayanan terbaik kepada khalayak pemirsa kelak. Kesungguhan mereka dalam
berlatih melantunkan bait demi bait lagu bisa menjadi perantara dan jembatan
antara nada dengan pemirsanya. Saya kemudian teringat dengan salah satu pepatah
dalam filsafat Yunani kuno yang diucapkan oleh Santo Augustinus dari Hippo, uskup
dan pujangga Gereja yang berbunyi “Qui bene cantat, bis orat” yang secara harfiah berarti "Ia yang
bernyanyi dengan baik sama dengan berdoa dua kali." Ini berarti bahwa
kesungguhan dalam melantunkan nada dan irama bisa dianggap sebagai perwujudan keimanan
musikalnya untuk membuat pemirsa merasa diberikan ketentraman batiniahnya.
Sebagai penikmat musik saya
banyak berharap supaya rekan-rekan memegang prinsip Crescendo yakni Sebuah
usaha dinamis untuk bermain lebih keras secara bertahap tetapi tanpa
mengabaikan sikap Diminuendo yakni Sebuah usaha dinamis untuk bermain
lebih tenang secara bertahap sehingga tercipta keseimbangan dalam memainkan
partitur yang disediakan. Akhirnya memiliki suara yang melodious
tentulah hal yang sangat membanggakan tetapi memiliki jiwa seni tingggi yang
bisa mengajak pemirsa merenungi essensi dan jati diri sebagai hamba dari Yang
Maha Kuasa lembut tentulah menjadi wujud Keimanan Musikal yang paling agung.

Komentar
Posting Komentar