Langsung ke konten utama

PADUAN SUARA (SENI & KEIMANAN)

 

PADUAN SUARA  (SENI & KEIMANAN)

Oleh:  Dindin Syahyudin (Guru & Penulis Independen)

 Rabu kemarin saya habiskan dengan membantu rekan-rekan panitia PSKK menyiapkan soal-soal yang akan dipergunakan pada hari senin yang akan datang. Situasi di sekolah cukup haneuteun karena rekan-rekan guru yang lain datang untuk berlatih Paduan Suara di ruang guru, secara tidak langsung kami merasa aya balad dan mendapat hiburan gratis. Meskipun saya tidak ahli dalam seni tarik suara apalagi terlibat dalam tim paduan suara tetapi saya sangat menikmati dan bisa memahami bagaimana para anggota paduan suara sangat bangga dan All Out dalam latihan dan penampilannya. Bagi sebagian besar anggota Paduan Suara menampilkan performa menyanyi yang baik adalah bentuk pengejawantahan aqidah musikalnya untuk menghibur khalayak ramai. Dikalangan militer Paduan Suara dan Korp Musik (Korsik) adalah salah satu jati diri  institusi yang sakral sehingga tidak semua anggota TNI POLRI bisa masuk bergabung ke dalamnya. Hanya mereka yang berkeinginan keras dan bakat yang baik lah yang memiliki kesempatan untuk bergabung dan berlatih bersama.  Sebut saja Orkestra Symphoni Praditya Wiratama kebanggaan Universitas Pertahanan Indonesia, Canka Lokananta milik Akademi Militer Magelang, Gita Jala Taruna Milik Akademi Angkatan Laut,  Gita Dirgantara Milik Akademi Angkatan Udara dan Drumcorps Pelopor Cenderawasih milik Akademi Kepolisian semuanya berkolaborasi antara grup drumband dan paduan suara yang menjadi kebanggaan dan ciri khas setiap kesatuan.

Di Sekolah kita pun ada paduan suara yang menjadi kebanggaan bersama, kemarin saya mendengar dan menyaksikan mereka berlatih beberapa lagu dan hasilnya cukup memuaskan. Saya melihat kesungguhan rekan-rekan anggota padus dalam memproduksi nada sesuai arahan coach nya. Bahkan di salah satu lagu yang mereka nyanyikan mampu menguras emosi melalui sekaan air mata. Luapan emosi itu tentu tidak artificial atau fake melainkan muncul karena ada penghayatan terhadap lagu yang dinyayikan. Berlinang air mata dan berpelukan saling menguatkan adalah hasil dari penjiwaan terhadap lagu yang dibawakan yang ujungnya adalah menyentuh juga relung hati pemirsa yang menyaksikannya termasuk saya yang berada di locus dan tempus terjadinya momen mengharukan itu. Mereka bernyanyi sebaik mungkin bukan hanya untuk memuaskan coach dan diri mereka sendiri melainkan juga untuk memberikan pelayanan terbaik kepada khalayak pemirsa kelak. Kesungguhan mereka dalam berlatih melantunkan bait demi bait lagu bisa menjadi perantara dan jembatan antara nada dengan pemirsanya. Saya kemudian teringat dengan salah satu pepatah dalam filsafat Yunani kuno yang diucapkan oleh Santo Augustinus dari Hippo, uskup dan pujangga Gereja yang berbunyi “Qui bene cantat, bis orat” yang  secara harfiah berarti "Ia yang bernyanyi dengan baik sama dengan berdoa dua kali." Ini berarti bahwa kesungguhan dalam melantunkan nada dan irama bisa dianggap sebagai perwujudan keimanan musikalnya untuk membuat pemirsa merasa diberikan ketentraman batiniahnya.

Sebagai penikmat musik saya banyak berharap supaya rekan-rekan memegang prinsip Crescendo yakni Sebuah usaha dinamis untuk bermain lebih keras secara bertahap tetapi tanpa mengabaikan sikap Diminuendo yakni Sebuah usaha dinamis untuk bermain lebih tenang secara bertahap sehingga tercipta keseimbangan dalam memainkan partitur yang disediakan. Akhirnya memiliki suara yang melodious tentulah hal yang sangat membanggakan tetapi memiliki jiwa seni tingggi yang bisa mengajak pemirsa merenungi essensi dan jati diri sebagai hamba dari Yang Maha Kuasa lembut tentulah menjadi wujud Keimanan Musikal yang paling agung.

Komentar