Langsung ke konten utama

SUKSESI ITU PASTI (Maka Siapkan Semenjak Dini) Bagian 1

SUKSESI ITU PASTI (Bagian 1)

(Maka Siapkan Semenjak Dini)

Oleh: Dindin Syahyudin (Guru & Penulis Indepeden)

 

الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

 “Ya rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku,

dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (QS. Thaha: 25-28).

 

A.   Prolog

Saya berserah diri seraya memohon perlindungan dari sifat angkuh, ujub dan takabbur kepada Alloh SWT Tuhan semesta alam. Tulisan saya kali ini dirasakan berat dan berpotensi mengganggu stabilitas keluarga kita, tetapi sebagai insan akademis saya ajak kita untuk berpikir menggunakan nalar akal pikiran yang dititipkan Alloh kepada kita sehingga kita layak diseru oleh Alloh dengan sapaan أُولُو الْأَلْبَابِ yang diartikan sebagai insan yang senantiasa menggunakan akalnya untuk mentadabburi, mengobservasi, memikirkan, menghayati, mengintrospeksi akan adanya sesuatu yang telah diciptakan oleh sang Khaliq yaitu Allah SWT. Oleh karena saya harap baraya semua memberi perspektif akademis terhadap apa- apa yang akan saya sampaikan dalam tulisan kali ini dan membuang jauh-jauh prasangka negatif dibalik terbitnya tulisan saya kali ini. Sungguh saya hanya ingin memberikan andil terhadap perubahan dan perbaikan sekolah kita menurut pengetahuan saya sebagai murid baru di sekolah kita ini sehingga sekolah kita ini bisa tumbuh kembang menjadi lebih baik dimasa yang akan datang. Tulisan serupa ini pernah saya sampaikan dimasa dan tempat tugas yang berbeda, Alhamdulillaah berbagai macam respon dari yang mengangguk setuju, memberi tambahan data sampai perundungan verbal dan ancaman saya terima terima. Saat ini bisa jadi (mudah-mudahan tidak) peristiwa tersebut saya alami, tetapi seperti yang saya yakini bahwa selalu harus ada yang rela mengorbankan diri untuk membuka jalan kesempatan kepada mereka yang berhak menunaikannya.

Baraya, judul diatas adalah tema yang cukup berat untuk saya sajikan karena kultur kita masih kental dengan perasaan kagok, pararameng, malu, ewuh pakewuh, dan tata susila ketimuran yang kerap menghambat kemajuan diri dan institusi. Kita sering mendengar ucapan “Mangga we abdi mah ngiringan” atau “Mangga wae akang majeng abdi mah siap ngarojong” adalah salah satu sebab etnis sunda tidak mampu bersaing dalam kancah kepemimpinan nasional apalagi internasioanl. Silahkan baraya hitung berapa orang Sunda yang sukses sebagai pimpinan nasional baik dibidang sipil, Militer atau dunia pendidikan nasional. Hitungannya pasti berbilang jari di kedua belah tangan kita, hitungannya mungkin tidak akan sampai 10 itu pun hanya pada posisi-posisi yang tidak terlalu strategis. Tetapi lihat lah saudara-saudara kita yang lain sanggup bersaing dalam proses kepemimpinan nasional diberbagai lini dan sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Silahkan sekarang anda teliti pucuk-pucuk pimpinan dinegara ini dikuasai oleh saudara-saudara kita dari etnis lain yang bisa kita lihat dari tampilan nama yang merujuk kepada salah satu etnis budaya bangsa. Tidak, saya tidak bermaksud rasis melainkan kita semua tentu rindu ada kader Sunda anu makalangan dikancah kepemimpinan nasional.

B.   Academic Based Theory

Kerangka berpikir dalam tulisan saya kali ini akan berbeda dibandingkan tulisan-tulisan saya sebelumnya yang lebih bersifat asumsi dan pendapat pribadi yang kadang kental dengan subjektifitas. Kali ini saya ingin letakkan pikiran dan pendapat saya pada kerangka berpikir ilmiah dan akademis dengan harapan saya bisa membuang jauh-jaun perspektif pribadi yang subjektif terhadap masalah yang akan saya kupas pada bagian kedua dari tulisan saya ini. Dasar teorinya akan saya buat beragam ditinjau dari perspektif logis analitis dan perspektif religius berupa wahyu kalam Illahi dan sunnah Rasululloh SAW, Insya Alloh.

Baraya, tulisan saya kali ini mengangkat tema tentang SUKSESI. Kata tersebut pernah menjadi kata haram saat rezim orde baru memerintah negara ini. Orang yang songong berbicara tentang SUKSESI biasanya akan mendapat tekanan dari pihak rezim waktu itu. Lalu apa arti kata SUKSESI itu? Secara sederhana SUKSESI diartikan sebagai cara di mana kekuatan politik berpindah, atau dipindahkan, dari satu individu, pemerintah atau rezim ke yang pihak yang lain baik melalui sistem peralihan kekuasaan yang wajar atau melalui kudeta terhadap rezim yang berkuasa.

Dalam bukunya Suksesi dan Keajaiban Kekuasaan, Amien Rais mengemukakan bahwa terdapat lima alasan mengapa harus terjadi sebuah suksesi dalam sistem kekuasaan negara.[1] Alasan-alasan tersebut antara lain :

1)      Penguasa yang terlalu lama berkuasa akan cenderung melakukan tindak korupsi

2)      Pimpinan nasional yang terlalu lama berkuasa akan melahirkan kultus individu ( the cult of individual ), yang mana hal ini akan mengabaikan rasionalisme manusia dan mengabaikan potensi lain yang tersedia.

3)      Suksesi, rotasi, atau regenerasi elit adalah sebuah keharusan dalam sebuah sistem demokrasi yang ditandai dengan tingginya partisipasi rakyat dalam menentukan kedudukan seorang pemimpin ataupun pengambilan keputusan atau kebijakan negara

4)      Kelompok elit yang terlalu lama memegang kekuasaan cenderung kehilangan misi ataupun kreativitas

5)      Sebuah lapisan yang sudah lama memegang kekuasaan secara perlahan akan meyakini bahwa dirinya adalah personifikasi stabilitas dan eksistensi negara.

Suksesi politik sendiri memiliki kaitan yang erat dengan krisis legitimasi. Bentuk konkrit dari hal ini adalah fenomena penurunan kepercayaan rakyat terhadap suatu pemimpin bisa berdampak pada perubahan politik. Yang dimaksudkan dengan legitimasi disini adalah legitimasi dari pemerintahan yang sebelumnya. Apabila tingkat legitimasi rendah, maka sebuah suksesi politik akan mudah terjadi. Begitu juga sebaliknya, apabila tingkat legitimasi tinggi maka sebuah suksesi politik akan sulit terjadi karena dukungan masyarakat pada pemerintah besar. Dalam ilmu politik, legitimasi diartikan seberapa jauh masyarakat mau menerima dan mengakui kewenangan, keputusan atau kebijakan yang diambil oleh seorang pemimpin.[2] ….. (Bersambung)

[1] Amien Rais, Suksesi dan Keajaiban Kekuasaan. ( Jakarta: Pustaka Pelajar, 1997) hal.13

[2] “Legitimasi”, http://id.wikipedia.org/wiki/Legitimasi, diakses tanggal 2 Januari 2008

 

Komentar