JASLURAH
Oleh: Dindin Syahyudin (Guru & Penulis Independen)
قُلِ ٱللَّهُمَّ مَٰلِكَ ٱلْمُلْكِ تُؤْتِى ٱلْمُلْكَ مَن تَشَآءُ
وَتَنزِعُ ٱلْمُلْكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُ
ۖ
بِيَدِكَ ٱلْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ
شَىْءٍ قَدِيرٌ
Artinya: Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai
kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau
cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang
Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan
Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Indonesia pernah mengalami masa
kelam dalam perubahan arah kebijakan negara yang ditandai oleh gerakan politik
moral para mahasiswa seluruh Indonesia yang ikut dikawal oleh para tokoh bangsa
yang pro perubahan dan perbaikan sistem
ketatanegaraan baik secara ekonomi maupun politik. Tuntutan lain yang sangat
fundamental adalah permintaan seluruh elemen masyarakat adalah berkenaan dengan
kepemimpinan Presiden Suharto saat itu yang dinilai terlalu dominan, terlalu
lama, terlalu banyak penyimpangan dan terlalu Suharto sentris sehingga
menafikan keberadaan putera puteri bangsa lain yang sebenarnya juga memiliki
potensi untuk mengemban amanat sebagai pimpinan tertinggi dinegeri ini. tentu
bukan salah Suharto semata jika kemudian dia berhasil berkuasa selama kurang
lebih 32 Tahun lamanya, bukan tanpa sebab juga jika kemudian dia berhasil mengamankan
masa pemerintahannya sampai pada hitungan waktu yang panjang dan lama seperti
itu.
Tidak dapat dipungkiri jika
Suharto berhasil mengkoordinasikan (untuk mengganti kata kooptasi) seluruh
kekuatan Politik dan pertahanan keamanan dibawah kendalinya untuk kemudian
digunakan untuk kepentingan Politiknya dalam rangka menguasai, mengatur dan
mengarahkan gerak langkah negara menjadi irama yang dia kehendaki. Dia pasti
tidak bisa bekerja sendiri untuk menguasai dan mengatur kekuasaannya saat itu,
dia perlu pigur dan kekuatan lain yang bisa memberi bantuan dan dukungan untuk
menjaga stabilitas sesuai dengan arah kebijakannya. Maka dia kuasai TNI POLRI
dalam leburan ABRI, dia kuasai dan kendalikan partai politik supaya menjadi
kendaraan legitimasi kekuasaannya sehingga nampak demokratis melalui Pemilu 5
tahunan yang memang disiapkan dan disetting untuk memenangkan dirinya dan
memperpanjang masa jabatannya. Maka diciptakanlah sebuah kondisi bahwa dinegara
berkembang seperti indonesia maka jumlah partai politik tidak boleh terlalu
banyak karena pola pikir dan tingkat pemahaman politik yang masih rendah akan
memicu banyak konflik jika tersedia terlalu banyak partai politik dalam satu
perhelatan Pemilu. Berdasar kebijakan tersebut maka terjadilah merger atau
lebih tepatnya kawin paksa partai partai politik untuk menyesuaikan dengan
kebijakan Suharto tersebut yang pada akhirnya gabungan-gabungan partai politik
tersebut memunculkan 3 partai besar dizaman orde baru yaitu: Partai Persatuan
Pembangunan (P3), GOLKAR dan terakhir adalah Partai Demokrasi Indonesia (PDI)
yang kemudian menjadi langganan dalam hajat politik lima tahunan di republik
ini.
Demikian powerfull nya Suharto
saat itu, dia menjelma bak pimpinan setengah dewa yang tak tersentuh oleh hukum
dan perubahan. 32 Tahun berkuasa tentu menyiratkan betapa ada sesuatu yang
salah dalam pengelolaan pemerintahan saat itu. Dia gunakan berbagai macam cara
untuk melanggengkan kekuasaannya itu baik dengan cara-cara konstitusional dan
cara cara intimidatif, kekerasaan dan pelemahana terhadap pihak-pihak yang
dianggap mengganggu kesenangan kekuasaannya. Ada yang dipenjara, diasingkan
secara politik atau diganggu hajat hidupnya dengan cara dipersulit mendapatkan
akses terhadap kebutuhan sehari-harinya. Tetapi sekali lagi ini bukan kesalahan
Suahrto semata karena pihak-pihak lain yang membantunya pun mendapat keuntungan
yang tidak sedikit pula. Para tokoh Partai politik memperoleh akses hidup dan
kekuasaan yang leluasa didalam pemerintahan, para pengusaha yang berafiliasi
dengan kekuatan rezim mendapatkan jatah proyek yang besar dalam proyek
pembangunan dan individu-individu dibawah kendalinya mendapat posisi strategis
dalam pemerintahan dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sekali lagi Suharto
tidak salah seorang diri, ada juga kesalahan rakyat yang tidak mau membuka
mulut lebar-lebar untuk menegur dan mengingatkan rezim berkuasa untuk segera
bertobat secara politik dan mengembalikan kepentingan demokrasi menjadi milik
rakyat. Rakyat juga ikut bersalah karena tidak dengan sekuat tenaga
mengingatkan rezim yang lama berkuasa tersebut bahwa berkuasa terlalu lama
pasti akan menimbulkan banyak penyimpangan, pasti akan terjadi korupsi dan
menghilangkan partisipasi rakyat untuk ikut serta membangun negara. Lord Acton
(1833-1902) seorang guru besar University of Cambridge menyatakan “ Power
tends to corrupt and absolute power corrupt absolutely” yang artinya “
kekuasaan itu cenderung korup dan kekuasaan yang absolut (tak terbatas)
cenderung korup secara absolut” Oleh
karena itu partisipasi rakyat mutlak diperlukan untuk menjaga ruh demokrasi
tetap menjamin hak konstitusional seluruh warga untuk mendapat akses yang sama
terhadap pemerintahan dan pengelolaan sumber daya alam.
Partisipasi dan pengawasan
ternyata tidak cukup kuat untuk menjamin tidak terjadi penyimpangan yang sama
karena nafsu manusia untuk berkuasa itu sangat besar. Ini tidak terlepas dari
nikmatnya kekuasaan yang melenakan. Oleh karena itu demokrasi memerlukan ikhtiar
untuk membatasi masa kekuasaan untuk tidak terjadi lagi seseorang berkuasa
tidak tak terbatas dalam lingkup apapun dinegara ini. Oleh karena maka
diputuskanlah untuk diadakan pembatasan masa jabatan dan kekuasaan yang semata
mata ditujukan untuk menghindari penyimpangandan korupsi dalam jabatan dan
kekuasaan tersebut. Disamping itu pembatasan masa jabatan dan kekuasaan akan
menciptakan sirkulasi dan rotasi pemimpin yang berimbas kepada munculnya kompetisi
yang terbuka diseluruh elemen masyarakat. Rotasi dan sirkulasi kepemimpinan
juga bisa menghilangkan kultus individu (Merasa diri paling bisa), memberi
kesempatan kepada potensi lain untuk juga ikut berkontribusi dalam proses
penyelenggaraan pemerintahan dan juga menhilangkan kultus jabatan yang
menjadikan jabatan sebagai tujuan hidup dan menjadi sesembahan selain dari yang
maha pencipta.
Akhirnya tidak ada kekuasaan yang
tanpa batas karena hanya milik Alloh lah kekuasaan yang hakiki itu. Alloh bisa
cabut jabatan dan kekuasaan itu dengan kehendak-Nya. Jangan terlena dengan
jabatan, Suharto diberi kesempatan untuk berhenti sebelum terjadi kerusuhan
1998 tetapi tidak beliau gunakan karena laporan para bawahannya yang memberikan
laporan Asal Bapak Senang (ABS) yang menyebabkan beliau tergiur untuk kembali mencalonkan diri
menjadi Presiden. Padahal kondisi riil saat itu adalah hampir sebagian besar
rakyat indonesia menghendaki terjadinya suksesi atau pergantian kepemimpinan
dan memunculkan sosok pemimpin baru untuk bisa membawa Indonesia menuju
kejayaannya. Suharto pernah punya kesempatan untuk lengser secara damai, tetapi
nafsu jabatan untuk berkuasa membutakan mata hati dan telinganya, sehingga pada
akhirnya rakyat melakukan kudeta kecil bernama reformasi untuk menurunkannya.
Suharto yang berkuasa secara absolut selama 32 tahun ternyata takluk bertekuk
lutuk dibawah kaki reformasi. Ketika kekuasaan sudah dianggap usang dan
menyimpang maka rakyat akan datang dan meruntuhkan egoisme dan membangun ulang
peradaban. Pesan akhir yang ingin saya sampaikan berhati-hatilah dan cerdaslah
untuk memilih saat yang tepat untuk naik dan saat yang damai untuk turun dari
kekuasaan supaya kita dikenang sebagai seorang negarawan yang bijaksana. Hal ini
bisa berlaku secara universal, umum dan menyeluruh disetiap sektor kehidupan
baik itu dikantor, disekolah atau tempat tempat lain yang menjalankan roda
kepemimpinan. Jika Sukarno pernah punya isitilah JAS MERAH (Jangan sekali kali
lupa sejarah) Diakhir tulisan ini saya ingin tutup dengan kiasan kata JAS LURAH
(Jangan Suka Lupa Sejarah), jika kita tidak arif dan bijaksana dengan jabatan
yang kita emban saat ini maka bukan
tidak mungkin kita akan bernasib serupa dengan Presiden Suharto dulu,
diturunkan secara paksa dan tak beretika. Naudzubillah Tsumma Naudzubillahi min
Dzalik. Cag!!!
Komentar
Posting Komentar