Guru Sejati
Oleh:
Syahyudin (Guru dan Penulis Independen)
Saya masih ingat betul di tahun 2009,
waktu itu saya sedang berada di Joglo SMP Negeri 3 Kota Sukabumi ( Tempat dinas
pertama saya sabagai PNS) bersama seorang siswa untuk berlatih story telling
tingkat Kota Sukabumi, ketika HP saya berdering menerima panggilan dari senior
Bahasa Inggris di sekolah saya saat itu. Dari seberang sana saya mendengar
suara ceu Iton (demikian saya memanggil Ibu Patonah, Senior Bahasa Inggris
disekolah saya saat itu) seperti setengah panik memanggil saya beberapa kali
lalu kemudian meminta saya segera menyusul beliau . “Pa Dindin … Pa Dindin
…. Geuwat kadieu …. Pokok na mah gura giru kadieu” …. Lalu saya yang sedang
di alam pikir lomba bertanya “kadieu kamana ceu?” Eeehh kadieu ka bumi Heti
itu, Heti nanayakeun wae Pa Dindin …. Enggal kadieu …. Sok gura giru” lalu
obrolan terputus. Saya bingung dan bertanya tanya apakah ini sudah hari yang
ditentukan itu?. Saya hentikan latihan dan segera, bergegas sesegera mungkin
menuju rumah Ibu Heti seperti yang diminta oleh senior saya itu.
Lalu siapa Ibu Heti yang akan saya ulas
dalam tulisan saya kali ini? Ibu Heti ini adalah rekan sejawat sesama guru
bahasa inggris di SMP Negeri 3 Kota Sukabumi. Saya sangat menghormati beliau
sebagai seorang senior yang juga membantu saya beradaptasi disekolah ketika
awal-awal saya ditugaskan disana tahun 2005 silam. Pembawaannya tenang, murah senyum dan setia
kepada tugas, sungguh saya menilai beliau adalah pribadi yang menyenangkan. Sampai
setelah sekian waktu saya berada disana barulah saya tahu jika beliau
sebenarnya tidak sehat seperti yang saya kira. Beliau ternyata menderita
penyakit kanker dan secara rutin melakukan kemoterapi dalam waktu yang cukup
lama sehingga menimbulkan efek samping kerusakan di sel rambut dan sebagian
organ tubuh yang lainnya. Sekali lagi saya katakan saya tidak menyangka beliau
mengidap penyakit berbahaya itu karena sehari-harinya beliau rajin masuk kelas,
riang dan dengan saya tidak pernah beliau bercerita tentang penyakitnya itu. Saya
tahu beliau sakit pun ya dari Ceu Iton itu karena saya dapati beliau sering
bepergian ke luar kota untuk kemoterapi tersebut.
Ibu Guru Heti ini saya katakan luar
biasa, beliau di uji dengan berbagai ujian lain selain kanker yang untuk
sebagian orang belum tentu bisa menjalaninya dengan penuh kesabaran. Tetapi
sekali lagi beliau tidak memperlihatkan rasa susah dan gelisah saat di sekolah
dan bahkan saya melihat betapa beliau pandai mengatur emosi dan bijak dalam
berperilaku. Jarang sekali atau bahkan tidak pernah saya melihat beliau marah
terhadap siswa apalagi terhadap guru, bahkan siswa senakal apapun beliau
tangani dengan penuh kesabaran. Ditengah kondisinya yang tidak 100% sehat
beliau tetap bersedia memberikan waktu, tenaga dan Pikiran untuk kegiatan
sekolah sebagai bendahara dibeberapa kegiatan sekolah. Bahkan dalam kondisinya
yang sakit jarang sekali saya melihat beliau datang terlambat ke sekolah
padahal selain mengurus dirinya yang sakit, beliau juga harus mengurus suami
dan satu anak laki-laki nya. Saya jadi teringat ucapan Prof. M. Surya jika guru
itu perlu bisa berakting seperti pemain film. Dirumah boleh jadi seorang guru
berhadapan dengan banyak masalah pribadi dan keluarga tetapi ketika masuk ke
ruang kelas maka lunturlah segala masalah itu diganti dengan wajah ceria dan
bahagia untuk melayani siswa.
Saya pacu motor saya agak kencang supaya
segera tiba di rumah beliau. Tiba didepan rumah sudah banyak saudara dan
tetangga yang hadir dengan wajah yang terlihat sedih. Saya berniat langsung
menuju tempat Bu Heti beristirahat tetapi ceu Iton menahan saya dan berbisik “
Pa Din, Heti teh embung dibawa deui ka Rumah Sakit malah ngageroan pa Dindin,
cing sugan bisa di olo supaya daek dibawa ka Rumah Sakit”. Saya hanya
mengangguk dan langsung menuju ruangan Bu Heti dan melihat kondisi yang memprihatinkan.
Dalam hati saya berkata bahwa beliau sudah punya firasat untuk segera pulang
menemui sang pencipta. Saya lalu berdiri disampingnya ketika ceu Iton berkata “Heti
tah ieu pa Dindin, sok rek nyarios naon Heti teh”. Beliau tiba-tiba
menangis dan berkata (lebih tepanya adalah memarahi, mempertanyakan dan mungkin
juga protes mengapa saya harus mengajukan mutasi ke Garut waktu itu). Saya
ingat betul kalimat yang pertama kali beliau ucapkan ketika saya berdiri
disampingnya adalah:”Pa Dindin naha atuh beut kedah uih ka Garut? Ari
barudak disakola bade ku saha diajar na? Karunya barudak pak”. Sungguh tak
ada yang menyangka jika beliau ingin bertemu saya hanya untuk mengucapkan
kalimat tersebut. Bahkan kepada keluarganya sendiri beliau tidak berwasiat, tidak
menitipkan anak semata wayangnya, tidak menitipkan mobil kijang yang baru
dibelinya dan tidak juga berbicara tentang harta benda beliau yang lainnya. Di
ujung usianya beliau justeru teringat akan nasib anak didiknya disekolah,
didalam deritanya beliau masih sempat berpikir masa depan anak didiknya, sebuah
pemikiran yang mungkin tidak akan terlintas dalam benak kita jika berada
diposisi beliau.
Saya diam tak berani menjawab pertanyaan
tajam beliau karena memang beliau tidak membutuhkan jawaban apapun dari saya.
Saya menyakini jika pertanyaan-pertanyaan itu adalah rasa dan bentuk tanggung
jawab terhadap anak didik yang beliau ajar selama ini. Setelah beberapa saat
saya menahan tangis (saya tidak ingin membuat beliau lebih merasa sedih) saya
menjawab pertanyaan beliau dengan kalimat “ Mun Eceu nyaah ka barudak di
sakola maka sok sing kuat, urang ikhtiar deui supaya eceu enggal sehat deui”.
Saat itu beliau tidak menjawab perkataan saya tetapi juga tidak menolak ketika
dibawa kerumah sakit. Sampai pada
akhirnya beberapa hari kemudian tidak lama setelah pertemuan kami, beliau
menghembuskan nafas terakhirnya.
Saya ceritakan ini sebagai pengingat betapa
ada sosok guru yang benar-benar memikirkan anak didiknya bahkan di ujung
hidupnya. Saya malu selama ini saya belum mencurahkan segenap daya upaya
melaksanakan tugas dan kewajiban saya sebagai seorang pendidik. Ingin sekali saya ajukan nama beliau
ke organisasi profesi untuk diberi penghargaan atas dedikasi tingginya kepada
pendidikan. Banyak guru yang memilliki integritas tinggi dan berprestasi tetapi luput dari catatan mereka.Tetapi saya
tahu bahwa bukan itu yang beliau inginkan. Saya panjatkan do’a untuk beliau
semoga Alloh SWT menerima amal kebaikan dan memaafkan segala kehilapannya dan
memberi beliau kedamaian dengan penampakkan surga di pagi dan petangnya.
Komentar
Posting Komentar