Langsung ke konten utama

Kisah Anak Didik Kita

Kisah Anak Didik Kita

 Oleh: Syahyudin (Guru & Penulis Independen)

 Tadi malam saya menerima kiriman video dari nomor yang tidak saya kenal, awalnya  saya mengira itu adalah video tawaran barang atau jasa lainnya. Tetapi saya cukup terkejut ketika video itu saya buka karena berisi potongan beberapa adegan salah satu siswa kita yang dikatakan oleh sipengirim video tersebut berada dalam keadaan mabuk bersama beberapa orang temannya. Saya mencoba menganalisa tulisan di spanduk dibelakang anak ini untuk mengetahui jejak yang bisa dijadikan petunjuk tentang lokasi dan atau komunitas yang terlibat disana, sayang tulisannya buram dan sulit diidentifikasi.

Saya tentu tidak mau dan tidak boleh gegabah menyatakan bahwa kegiatan yang ada dalam  video tersebut memang benar menunjukkan kondisi siswa kita yang sedang mabuk karena bisa saja kegiatan tersebut dibuat hanya untuk konten dimedia massa semata. Seperti yang kita sama-sama ketahui anak-anak remaja saat ini rela berbuat diluar nalar hanya demi mendapatkan like dan subcribe di akun media sosialnya. Tetapi tetap saja hal ini membuat saya terganggu karena untuk ukuran pelaku yang masih berstatus pelajar maka tindak tanduk perilakunya akan selalu terkoneksi dengan sekolah tempatnya belajar, dan kegiatan yang terekam dalam video tersebut bagi saya tidak lucu dan berpotensi menyudutkan SMPN 4 Tarogong Kidul yang sedang berjuang keras memulihkan dan menaikkan harkat dan derajatnya.

Saya sungguh terganggu karena ini adalah kali ke sekian saya menerima Dusis (Aduan Siswa, demikian saya sebut saat masih aktif dikegiatan kesiswaan untuk menamai keluhan dan laporan siswa). Beberapa minggu yang lalu saya sempat di datangi oleh beberapa siswa dan meminta waktu untuk berbicara. Sesuai protap (Prosedur Tetap) saya tawarkan untuk melimpahkan aduan  mereka kepada pihak-pihak berwenang disekolah untuk bisa ditindaklanjuti karena saya nir kewenangan untuk itu. Tetapi mereka menolak dan memilih untuk tidak melanjutkan aduan mereka dengan alasan hanya ingin ungkap unek-unek mereka saja dan tidak ingin jadi panjang permasalahan apalagi mereka sangat takut kalau sampai terjadi pemanggilan orang tua kesekolah. Isi unek-unek mereka pun sungguh membagongkan(isitilah remaja saat ini), salah satu dari mereka mengaku dirayu setengah dipaksa ikut kebelakang sekolah untuk dilecehkan secara fisik (meminta untuk meraba dan memainkan organ sensitif). Saya terkejut dan tegur anak tersebut, saya katakan “didinya meureun anu murahan, PHP ka lalaki nepi ka eta ngajak didinya ka tukang. Coba mun didinya keras tegas mah kanu kitu pasti moal aya anu wani macem-macem ka didinya”.

Beberapa hari terakhir ini saya kerap didatangi oleh beberapa siswa yang sebetulnya tidak jelas apa maunya. Saya hanya memahami mereka perlu tempat bicara tanpa ada kewajiban saya untuk memberikan solusi, cukup didengar dan ditimpali sesekali saja sudah membuat mereka senang. Mereka cerita mulai dari sikap orang tua yang tidak terlalu pro aktif terhadap masa depan pendidikan mereka sampai pada betapa beberapa anak sangat merindukan perhatian orang tua. Ada sebagian dari mereka bahkan menangis ketika menceritakan kondisi keluarga mereka, bercerita betapa mereka kesepian saat di rumah dan ada yang bahkan berpikir untuk menyakiti dirinya sendiri. Pelampiasan yang paling rasional adalah mereka bergabung dengan komunitas-komunitas diluar sekolah atau membentuk geng disekolah sabagai sarana aktualisasi dan eksistensi mereka terhadap lingkungannya dan ini berpotensi munculnya perilaku perundungan kepada siswa lainnya.

Dari perilaku dan kondisi yang cukup membagongkan tadi tentu saja kita harus bersikap untuk memberi ruang yang cukup kepada siswa supaya potensi dan kreatifitasnya bisa tersalurkan. Kita harus mulai meletakkan kerangka berpikir kegiatan ekstrakurikuler sebagai alternatif positif bagi  siswa menunjukkan jati dirinya. Giat Ekskul jangan lagi dianggap sebagai hal enteng dan dipandang sebelah mata. Kita jangan pelit untuk berinvestasi di bidang ini karena bisa kita jadikan alternatif d pembinaan kesiswaan yang pada akhirnya menjadi daya tarik sekolah kita pada masyarakat. Selain itu kita juga harus terus menerus memberikan pengawasan yang terpadu kepada para siswa supaya dalam skala minimal tidak terjadi tindakan negatif yang terjadi di dalam sekolah dan radius yang dekat dengan sekolah.  Kita harus membuat siswa merasa diperhatikan (kata lain dari diawasi) untuk senantiasa mengikuti aturan/tata tertib yang telah dibuat dan disosialisasikan dihadapan orang tua dan ditandatangani oleh komite sekolah. Ini perlu dilakukan supaya kita memiliki landasan yang kuat ketika menjumpai perilaku menyimpang dari siswa.

Baraya, kembali kepada kasus video yang layak diduga berisi siswa yang sedang mabuk maka saya mendukung langkah sekolah juncto PKS Kesiswaan untuk lebih intensif melakukan razia untuk mengendalikan peredaran benda-benda yang tidak layak dibawa ke sekolah. Ini perlu kita lakukan supaya sekolah bisa steril dari benda-benda yang berpotensi bisa menimbulkan tindakan-tindakan melanggar aturan/tata tertib yang telah kita sepakati bersama.

Wallohu”alam Bishowab.

  

Komentar