Langsung ke konten utama

GERAKAN GURU MENULIS

 Gerakan Guru Menulis.

Oleh: D. Syahyudin (Guru & Penulis Independen) 

Saya sudah mulai menulis sejak tahun 2004 saat saya membuat sebuah buku yang berjudul BUAH PENA. Buku itu sendiri saya buat sebagai bagian dari unofficial mahar untuk calon isteri saya dulu. Terdapat 21 judul artikel dalam buku itu sebagai simbol tanggal pernikahan kami dan karena energi rencana pernikahan yang luar biasa itu membuat saya mampu merampungkan buku tersebut dalam kurun waktu dibawah satu bulan saja, sama persis dengan buku ke dua saya yang terbit tahun 2022 silam. Kurang lebih sama saya menulis karena sangat ingin menyimpan sebagian hati saya di SMPN 5 Tarkid yang harus saya tinggalkan dan buah tangan untuk diberikan kepada SMPN 4 Tarkid yang dengan rela hati menerima saya bergabung untuk bersama-sama berjuang, dan Alhamdulillah buku saya terpajang di pojok baca kelas VII.

Ada banyak kesenangan dan manfaat yang saya terima dari hobi menulis ini, minimal kebiasaan ngibul yang berkembang saat study di pascasarjana mendapatkan ruang untuk didokumentasikan. Argumentasi yang kadang tidak tersalurkan bisa kemudian dikonstruksikan ulang menjadi lebih bermakna melalui ruang-ruang yang tersedia. Kesempatan study di pascasarjana mempertemukan saya dengan beberapa guru besar UPI dan ITB yang sangat berpengaruh memandu kebiasaan ngibul saya menjadi sesuatu yang bisa lebih di cerna dan mudah-mudahan bermanfaat. Saya ingat saat kuliah, Direktur Pascasarjana IPI waktu itu (Prof. DR. Maman Abdurrahman Djauhari, DEA beliau guru Besar statistika dan matematikawan ITB dan salah satu orang asia yang menerima GOLD MEDAL dari Ikatan Statistikawan Islam Internasional atas kritik konstruktif beliau terhadap kitab dan kiblatnya Statistika dunia berjudul STATISTICAL QUALITY CONTROL  karya Douglas C. Montgomery) meminta saya untuk selalu menjemput beliau ke ruangan nya saat jam kuliah nya. Saat menjemput itu saya mendapatkan akses untuk masuk ke ruang beliau dan ngobrol santai terkait banyak hal termasuk bidang filsafat dan karya monumental. Beliau katakan bahwa karya monumental seorang akademisi adalah Artikel yang publish di jurnal-jurnal internasional terindex scopus (Scopus merupakan salah satu sumber data literatur ilmiah berupa jurnal internasional bereputasi yang dimiliki dan dikelola oleh Elsevier). Saya juga melihat kebiasaan beliau saat berada diruangannya adalah konsistensinya mengakses jurnal-jurnal internasional sebagai bentuk sarapan pagi dan saya mulai berusaha meniru kebiasaan beliau. Saya kagum terhadap beliau atas karya-karyanya yang mendunia bahkan raihan Citation, H-Index dan i10-index nya sungguh luar biasa untuk ukuran dosen dan guru besar Indonesia. Beliau juga memperlihat beberapa buku hasil karya beliau yang beragam dari buku terkait keahlian akademisnya sampai kepada buku yang membahas konsep keagamaan, luar biasa ilmuwan yang sekaligus  agamawan. Dan yang membuat saya bangga yakni beliau adalah putera asli garut asal Banyuresmi..

Guru besar berikutnya yang sangat mempengaruhi minat saya dalam menulis adalah datang dari Ketua Prodi Magister Teknologi Pendidikan IPI Garut Prof. DR. Deni Darmawan, M,Si., M.Kom., MCE (beliau adalah guru besar bidang ilmu komunikasi UPI Bandung, Kepala Biro Humas UPI Bandung dan belum lama ini ditunjuk sebagai direktur UPI Kampus Cibiru). Kegilaan beliau dalam menulis ditunjukkan dengan buku-buku ajar nya yang sangat banyak dan digunakan dibeberapa kampus ternama republik ini bahkan beberapa diantaranya terbit di luar negeri, artikel yang terbit juga tidak kalah menterengnya sehingga beliau dinobatkan sebagai Dosen dan guru besar paling produktif nomor satu di UPI bandung. Pengetahuan saya dalam membuat artikel ilmiah juga diasah oleh beliau dan akhirnya kegilaannya dalam menulis sedikit banyak menular pada saya. Saya beberapa kali diminta untuk peer-review terhadap artikel yang beliau buat sebelum dikirimkan ke publisher nya terutama untuk artikel yang berbahasa inggris. Beliau juga singa seminar internasional yang sering bolak balik ke luar negeri untuk memberikan seminar baik di kampus atau badan-badan internasional yang berafiliasi ke PBB. Guru besar yang kedua ini pun asli pituin orang Pameungpeuk Garut. Saya termasuk orang yang mudah Kagum pada orang-orang pintar seperti mereka berdua itu.

Baraya saya perlu sedikit mengulas dua Guru besar itu untuk menunjukkan jika kegemaran menulis kemudian ditekuni secara serius maka akan memberikan dampak positif yang luar biasa, mulai dari karir yang moncer dan bertambahnya income yang kita peroleh. Dua guru besar itu memperoleh insentif yang cukup besar dari setiap artikel yang terbit dan sekaligus kredit poin terhadap kenaikan jenjang karirnya. Kegemaran saya menulis tentu sangat jauh dari apa yang mereka peroleh, tetapi saya tidak memungkiri jika dari menulis itu saya memperoleh banyak manfaat seperti saya pernah diberi enam buah buku hasil karya beliau dan memperoleh beasiswa untuk mengikuti short course di Microsoft Certified of Educator (MCE). Manfaat lain yang bisa kita peroleh adalah kepercayaan dan rasa bangga anak didik terhadap kita saat mereka membaca buku hasil jerih payah kita. Satu waktu ketika saya sedang berjalan dilorong kelas VII tangan saya tiba-tiba ditarik tarik oleh beberapa siswa sambil berkata “pak, pak kadieu heula itu aya bapak dina buku di kelas abdi”. Terus salah seorang dari mereka lari kedalam kelas dan mengambil buku saya itu dan menunjukkan nya dengan wajah yang berbinar.

Mereka mungkin tidak terlalu memahami isi buku saya itu, tetapi bagi mereka ada foto guru nya di sebuah buku diantara buku-buku yang lain cukup membuat mereka excited. Saya sempat berpikir kalau satu guru saja yang muncul sudah membuat mereka bangga apalagi kalau kita bersama-sama muncul dalam buku yang kemudian dikonsumsi oleh mereka tentu saja ini akan membuat prestasi yang luar biasa bagi kita semua. Oleh karena mengapa kita tidak mulai membuka laptop kita dan menulis apa yang ada didalam kepala kita untuk kemudian kita rajut kata demi kata untuk menjadi sebuah buku. Jika sendiri dirasa berat maka kita berkolaborasi menyusun buku Antologi dimana kita menyumbang satu judul yang kemudian kita susun menjadi satu buku bersama. Kita bisa menyusun buku dongeng, cerita pendek, puisi, dll yang bisa kita gunakan sebagai bahan untuk gerakan literasi sekolah kita.

Oleh karena pada momentum hari guru ini saya mengajak kita semua untuk bersama-sama belajar menuangkan isi kepala kita menjadi sebuah buku melalui program Gerakan Guru Menulis (GGM). Setelah kita sukses membuat buku maka selanjutnya kita coba bina peserta didik kita untuk juga bisa menghasilkan buku mereka sendiri. Bisa jadi besok hari setiap kelas akan mampu membuat buku Antologi nya masing-masing sehingga kedepan perpustakaan kita akan penuh oleh buku hasil karya warganya sendiri, saya yakin ini akan menjadi prestasi tersendiri bagi sekolah kita. Bisa jadi dari program ini pula kita bisa memperoleh dukungan bantuan finansial baik dari pemerintah atau pun pihak-pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap karya tulis tersebut. Saya juga berharap sekolah mau memberikan support terhadap rencana ini berupa pemberian insentif atau membeli setiap buku yang terbit dan memasukkan judul buku itu kedalam katalog perpustakaan sekolah kita. Saat ini saya pun sedang membimbing satu alumni sekolah kita untuk bisa sesegera mungkin menerbitkan buku hasil karya nya sendiri. Tidak ada yang sulit jika kita konsisten dalam mengerjakannya, pertanyaannya adalah apakah kita memiliki minat untuk mewujudkan cita-cita itu? Jika seorang alumni yang bisa kita sebut anak kecil kemarin sore saja punya mimpi untuk memiliki buku hasil karyanya sendiri, lalu apakah kita memlliki mimpi yang sama dengan anak itu? Cag!!!!  

 

 

 

Komentar