Langsung ke konten utama

INVESTASI PRESTASI

INVESTASI PRESTASI

                                                        Oleh: D. Syahyudin (Guru & Penulis Independen)

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bekerja dan menekuni kerjanya.” (HR Baihaqi)

Baraya, kita tentu sangat bangga dan bahagia karena sekolah kita telah terangkat harkat dan martabatnya dimata masyarakat via prestasi anak-anak didik kita yang tergabung dalam giat ekstrakurikuler Pramuka dan PMR yang dengan sangat menyakinkan menyumbangkan 7 piala untuk jenis-jenis perlombaan yang diikutinya. Ini tentu bukan hal yang mudah diperoleh, sebagai orang yang lama berkecimpung di dunia lomba seperti itu saya sangat memahami betapa tidak mudah bagi para pembina dan pembantu pembina atau pelatih untuk menyiapkan anggotanya untuk bisa berpartisipasi dan berprestasi dalam giat lomba seperti itu. Perlu waktu dan kesabaran ekstra untuk bisa memberangkatkan mereka ke arena lomba yang tentu memiliki tekanan mental yang tidak kecil sehingga kita akhirnya bisa merengkuh prestasi-prestasi itu. Saya tentu harus angkat topi tinggi-tinggi untuk para pembina ekstrakurikuler disekolah kita yang telah RIKAT menyiapkan dan mendampingi anak didik kita berjuang dan berkompetisi dengan teman-temannya dari sekolah yang bisa jadi mempersiapkan diri lebih baik dan mendapat sokongan dana yang mungkin lebih besar dari kita. Pada akhirnya Money isn’t a matter ketika kita punya keyakinan dan berikhtiar dengan penuh kesungguhan. Saya tahu ada beberapa sekolah yang mempersiapkan diri dengan menyewa pelatih-pelatih dari kalangan professioanl untuk menghadapi dua giat lomba tersebut (Kebetulan di dua lomba itu banyak kolega-kolega saya yang bertindak sebagai Pembina, panitia atau juri).

Lepas dari paparan diatas saya ingin katakan jika kita perlu bersungguh-sungguh menetapkan target pengembangan sekolah dimasa depan. Kita harus menentukan skala prioritas apa yang akan kita tetapkan untuk meningkatkan daya saing dan memunculkan keunggulan sekolah kita. Kita punya pilihan untuk memperkuat bidang akademis atau bidang non akademis untuk bisa dengan cepat memunculkan nama kita dikancah perbincangan masyarakat pendidikan. Kita tidak boleh lamban menetapkan hal itu, slogan sekolah kita menuntut kita untuk RIKAT berpikir dan berkerja supaya kita tidak lebih banyak kehilangan trust dari masyarakat. Saya mengamati sebuah sekolah swasta yang jauh dibawah kita tetapi dengan berani menetapkan bidang ekstrakurikuler sebagai program unggulan mereka dan hasilnya mereka beberpa kali menjadi juara umum dalam bidang kepramukaan dan memilliki daya semangat entrepreneurship yang kuat melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dan tak sungkan mengeluarkan dana besar untuk itu. Karena bagi mereka prestasi itu adalah investasi yang bisa ditukartambahkan dengan kepercayaan masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak mereka kesekolah tersebut ditengah persaingan penerimaan peserta didik yang semakin gila-gilaan. Ini tentu menjadi PR bagi sekolah kita, maksud saya sudah sejauh mana kita memandang eksistensi kegiatan kesiswaan sebagai satu potensi yang bisa kita jadikan senjata potesial untuk bisa mendatangkan peserta didik baru. Sebesar apa komitmen kita untuk mengalokasikan dana untuk membiayai kegiatan kesiswaan tersebut. Sebagai orang yang semenjak menjadi guru selalu berada dilingkup kesiswaan bisa jadi saya sedikit tendensius dalam berpikir dan bersikap seolah-olah kegiatan kesiswaan adalah segala-segalanya disekolah, tetapi peruntukan untuk itu memang harus ada untuk dipergunakan dengan rasa penuh tanggung jawab.

Hal yang perlu menjadi perhatian kita adalah penghargaan yang harus kita berikan kepada guru dan atau pelatih yang telah berhasil membina dan melatih anggotanya sehingga berhasil memberikan titel juara harus lebih serius kita pikirkan. Tidak harus selalu bouquet uang atau makanan melainkan ada sebuah jaminan bahwa jerih payah mereka mendapatkan perhatian dari sekolah. Selama ini kita telah meletakkan penghargaan kepada peserta didik tetapi kadang-kadang kita tidak cukup memadai memberikan penghargaan dan perhatian kepada guru dan pelatih. Sekali lagi tidak harus dalam bentuk benda konsumtif melainkan memberikan perhatian yang lebih intensif kepada mereka dengan memberikan kemudahan memperoleh pendanaan kegiatan dan atau melengkapi peralatan yang mereka butuhkan untuk meraih prestasi di masa yang akan datang. Misalkan untuk Pramuka dan apalagi  PMR perlu diberikan tandu yang memadai untuk pelaksanaan tugas lapangan, misal saat Upacara atau ketika ada kegiatan lapangan lainnya. Saya miris melihat anak-anak PMR masih menggunakan dragbar/tandu darurat dari tongkat dan tali untuk mengevakuasi peserta upacara yang sakit, padahal dragbar itu hanya digunakan saat kondisi darurat dikegiatan alam terbuka saat mereka tidak memungkinkan membawa tandu yang sebenarnya. Bahkan beberapa kali kita lihat peserta upacara yang dibawa tanpa memakai tandu padahal dalam evakuasi korban harus dilakukan secara hati-hati supaya tidak menyebabkan luka tambahan kepada korban. Atau anak-anak Paskibra harus segera kita beri bendera yang baru karena bendera yang kita kibarkan saat ini sudah tidak merah lagi merah nya. Padahal didalam warna bendera itu ada nilai luhur yang harus kita jaga.

Selain itu kita perlu juga memberikan perhatian kepada para pembina dan pelatih berupa jaminan bahwa segala kegiatan resmi yang berkaitan dengan peserta didik akan menjadi tanggung jawab sekolah dalam hal pembiayaannya. Kita perlu melakukan konfirmasi kepada para pembina dan pelatih apakah ada dana pribadi atau pinjaman dari pihak dan sumber lain ketika melakukan kegiatan itu? Jika ada maka sekolah harus dengan RIKAT memberikan dana pengganti agar mereka merasa tenang dalam merencanakan kegiatan yang lainnya. Dalam hal ini Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan mesti memastikan bahwa jika ada uang pribadi guru atau pelatih atau sumber lain yang digunakan maka akan dilakukan pelaporan kepada kepala sekolah untuk memohon penggantian yang senilai. Selain itu saya ingin mengusulkan agar guru-guru atau pelatih yang berhasil mengantarkan anak didiknya meraih prestasi supaya diberi penghargaan pada hari guru yang akan kita selenggarakan nanti. Ini perlu dilakukan untuk menjadi motivasi bagi guru-guru yang lain untuk juga mulai menabung prestasi dan menjadi inspirasi bagi kita semua.

Terakhir penulis kembali ingatkan bahwa kegiatan kesiswaan jangan sampai dipandang sebelah mata apalagi dianggap sebagai hal yang membebani anggaran sekolah. Kita justeru harus memandang kegiatan kesiswaan sebagai salah satu bentuk investasi yang akan mendatangkan prestasi bagi sekolah kita. Saya bermimpi kalau disekolah kita akan ramai dan sibuk dengan berbagai macam kegiatan kesiswaan seperti lomba-lomba internal, diskusi siswa, pengelolaan lingkungan sekolah dan pembinaan kesiswaan secara rutin untuk para siswa pengelola ekstrakurikuler sehingga mereka memiliki pemahaman yang baik tentang organisasi yang diikutinya.  Baraya, saya bisa saja salah pikir dan cacat menulis tetapi itulah yang saya pikirkan malam ini. Cag !!!!! 

Komentar